Hastag Wanita: PUISI

About

Sunday, 12 March 2017

LEPAS

Hastag Wanita

Kuncir ekor kuda akan dilepas.
Saat seorang gadis beranjak dewasa.
Tak ada lagi metafora yang dipercaya.
Rantau yang jauh sekalipun akan mengenali kita
Sebagai penghuni palung ibunda.
Jarak akan jadi niscaya,
bahkan dalam pertemuan
Yang paling baka.
Tapi rumah akan tetap ada.
Menyertai peta buta para pengembara.

~Bunga Hening Maulidina~

Sunday, 26 February 2017

ELIA

Hastag Wanita

Mengapa kau menyeberang
Sampai ke tanah kuning
Nasi kuning, sinonggi hening.
Wajahmu ada di pelupuk dosa.
Aku tinggal di depan rona.
Halo Jakarta,
Kau beralis manja,
Teralis paling sengsara...
Kami tersungging di pinggir kota.
Kau bukan raja.

~Bunga Hening Maulidina~

Sunday, 19 February 2017

AIR

Hastag Wanita

Dan dalam udara
Aku menemui suara
Engkau dan ramaiku
Tak bisa sunyi.


~Bunga Hening Maulidina~

Sunday, 5 February 2017

GUA YANG SEMBUNYI

Hastag Wanita

Lubangi kanvasmu.
Aku ingin tidur bersemayam
Dalam seratnya yang keras dan kuat.
Katamu, aku tak bisa tidur di situ.
Nanti mataku jadi berminyak,
Dan tak lagi jujur padamu.

~Bunga Hening Maulidina~

Sunday, 29 January 2017

LELAKI UNGU

Hastag Wanita

Di senja hari, muncul lelaki
Membawa buket bunga ungu.
Diletakkannya di depan pintu
Rumah kekasihnya yang baru.
Pintu terbuka, matahari menyepi
Deguk dan sunyi, harum air suci.

~Bunga Hening Maulidina~

Sunday, 22 January 2017

SEBOTOL BIR MILIK HUJAN

Hastag Wanita

Ada rahasia mama yang lupa diceritakan padaku.
Mama punya boneka kanguru lucu.
Dalam kantong kanguru ada sebotol bau.
Di hari raya, kuhirup dengan bahagia.
Tiba-tiba mama datang dengan muka berdosa.
Direbutnya botol bau,
Ditenggak di depanku,
Matanya pucat dan beku tanpa cal.
Diguyur rintik tanpa basah.
Pipi mama berbadai dan resah.
"Jangan sekali-kali membukannya sebelum kau dewasa, ini bir milik hujan"

~Bunga Hening Maulidina~

Sunday, 15 January 2017

DUA SEJOLI

Hastag Wanita

Lelaki gila ini mengambil pisau
dari selipan telinganya,
untuk disulut seperti bara rokok
yang memabukkan kenangan.
Perempuan waras itu menusuk puntung menyala
untuk ditancap pada sukma.
Sampai sembuh luka-luka dan moksa

~Bunga Hening Maulidina~